Skip to main content

Posts

Showing posts with the label NgeBlog

Boedoet Intoleransi

Foto: Deklarasi Stop Tawuran Kita sering jumpai alumni-alumni Boedoet menyebar di pelosok Indonesia maupun mancanegara, baik hanya melihat foto-foto narsis mereka di medsos, berpapasan di jalan dengan orang asing yang memakai kaos Boedoet atau janjian bertemu dengan sesama alumni Boedoet di sebuah kota, padahal mereka cuma kenal lewat jejaring sosial. Apa kesan pertama yang kita dapat dengan sosok asing bertitel alumni Boedoet tersebut?. Jawabannya adalah humoris, supel, humbel dan sederet istilah lain untuk menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang mudah bergaul. Orang-orang yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, orang-orang yang tidak seseram dan seangker nama besar Boedoet. Nama yang dikenal di seantero Jakarta sebagai pusatnya kenakalan remaja. Tapi kini mereka bertemu bukan sebagai remaja lagi, mereka saling bertemu karena suatu ikatan persaudaraan yang bernama Boedoet. Kini mereka bertemu kembali untuk membahas sesuatu hal yang lebih serius tentang...

Boedoet Itu Unik

Sebulan yang lalu handphone berdering dari nomor yang tidak Aku kenal, si penelpon memperkenalkan diri sebagai si Nganu dari Basis 63 Priok. Si Nganu bermaksud mengajak silaturahim alumni-alumni Boedoet yang ada di Kota Kembang ini. Aku jawab Insya Allah. Dan pertemuan itu pun terlaksana di 'Ngopi Doeloe' yang terletak di jalan Hasanudin, Bandung. Punten pisan Aku tidak bisa hadir karena sebab sesuatu hal yang lain. Dan mereka share pertemuan perdana mereka di grup WhatsApp 'Boedoet Bandung'. Hari ini (19/1/17) undangan untuk kumpul lagi di salah satu resto di jalan Dipati Ukur kembali bergaung di grup WhatsApp yang membernya hanya berisi 7 orang. Awalnya mereka akan kumpul di kawasan Punclut, disana banyak berdiri rumah makan sunda dengan view kota Bandung. Tapi berhubung tidak semua bisa hadir, akhirnya pertemuan digeser ke daerah Dipati Ukur. Jarak resto tersebut dengan rumahku kurang lebih sekitar 500 meter, jadi cukup dengan berjalan kaki selepas Isy...

Saya, Antara Islam, Indonesia, dan Arab

Saya muslim, warga negara Indonesia asli, ras melayu mongoloid, bukan orang Arab atau keturunan Arab, tak perlu menjadi orang Arab, dan tak kan pernah menjadi orang beretnis Arab. Tetapi karena muslim, setidaknya 5 kali dalam sehari saya merapalkan bacaan-bacaan berbahasa Arab dalam gerakan yang teratur. Dalam bahasa Arab, disebut sholat. Saya menghafal bacaan-bacaan itu sekaligus mempelajari artinya agar saat mengucapkan sebuah kalimat, saya paham maknanya. Dan saya tidak akan pernah mengganti bacaan sholat itu dengan bahasa Indonesia. Saya juga sedang menghafalkan kitab tebal berbahasa Arab serta memahami makna dan tafsirnya. Kitab itu disebut Al-Quran. Tak ada buku dalam bahasa Indonesia setebal Al-Quran yang saya hafal. Saya sediakan waktu setiap hari untuk membaca kitab itu. Bila berkesempatan, pada waktu-waktu tertentu saya akan mengeraskan suara menghimbau orang banyak dalam bahasa Arab. Atau yang disebut dengan adzan. Bertujuan mengajak orang sholat. Saya tak kan m...

Metamorfosis Basis Berjalan Ngos-ngosan

Pemandangan dalam foto disebelah adalah foto hasil pencarian di mesin pencari Google, sangat dramatis. Untuk orang tua pemandangan di foto tersebut tentu sangat menakjubkan, menakutkan sekaligus mengerikan karena mereka begitu beraninya bermain-main dengan kematian. Tapi untuk kalangan anak baru gede hal seperti ini adalah, top...abis!!. Inilah dunia remaja, dunia ceria, dunia penuh gelak tawa dan selalu ingin menantang bahaya sekedar untuk menunjukan bahwa dirinya adalah seorang pemberani alias selon. Walau semua orang tua pernah mengalami masa-masa remaja dan bertingkah serupa layaknya remaja yang baru tumbuh akan tetapi ketika dihadapkan kepada sikap dan pergaulan remaja itu sendiri, semua orang tuapun akan gelek-gelek dan pusing tujuh puteran. Fenomena kenakalan remaja seperti terlihat dalam foto tersebut pernah marak terjadi pada remaja-remaja ibu kota sekitar dekade tahun 90an dan awal tahun 2000an yang kemudian akhirnya hilang dengan sendirinya ketika rute-rute bus rawan ta...

Save Boedoet

"JANGAN WARISKAN DENDAM KEPADA KAMI" in memorial: Rival 913 Yang jelas hari ini kita semua tersentak dengan tewasnya siswa SMKN 1, lagi dan lagi. Selalu terulang dan terulang dari tahun ke tahun tanpa ada solusi yang terbaik dari semua pihak. Yang masih berjiwa muda berteriak "Nyawa di bayar Nyawa!". Yang berjiwa setengah tua berkata "Turut berduka cita, Serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Jangan main hakin sendiri, kita ini negara hukum, serahkan semuanya kepada hukum yang berlaku!". Sedangkan yang sudah tua hanya bisa mengurut dada dan berguman "Innalilahi wainnalilahi rojiun". Dan beberapa bulan kemudian berita duka ini pun hilang ditelan angin. Lalu apa?? lalu kita tunggu lagi berita duka berikutnya, agar jiwa "Boedoet" kita kembali menggelora lagi dan kembali mengulang kalimat2 diatas berdasarkan tingkatan usia dan kedewasaan dari masing - masing orang. "Tidak bosan?". Kalau saya sih merasa bosan dan say...

Sepenggal Kisah Tragedi Boedoet Kelabu 1989

Ini sepenggal kisah pribadi yang terjadi 20 tahun yang lalu di awal bulan Oktober 1989 di jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Bukan bermaksud untuk menguak kembali luka lama yang telah berlalu, tapi ini hanya sebuah cermin bagi generasi-generasi berikutnya untuk lebih menghargai arti sebuah persatuan dan kesatuan diantara sesama anak bangsa. Sebagai salah seorang siswa baru di SMA Negeri 1, saya termaksud orang yang dapat berbangga hati karena dapat diterima disebuah sekolah favorit yang isinya memang banyak dari kalangan anak-anak borju dan pejabat. Mungkin diantara ratusan murid SMA 1 hanya sayalah yang kere dan tak pernah bisa berdandan rapi. Penampilan saya lebih banyak meniru tokoh novel remaja yang ngetop saat itu, Lupus. Baju selalu dikeluarkan dengan kancing bagian atas dibiarkan terbuka. Kedua lengan baju digulung walaupun tak berotot, tas dengan tali yang panjang sampai sebatas paha, sepatu capung alias Butterfly dan tak lupa celana abu-abu yang sudah dekil karena sudah semi...

19A Kini Dan Selanjutnya, Bagian Kedua

Kenakalan dan kebodohan yang pernah kita perbuat dikala remaja dahulu sudah tentu menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk diri kita dan generasi berikutnya. Banyak kesulitan yang kita dapat akibat kebodohan-kebodohan di masa lalu terutama dalam hal meniti karir pekerjaan saat ini, mungkin tak jadi masalah jika setelah lulus dari Boedoet mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hingga akhirnya menyandang gelar Sarjana. Lalu bagaimana dengan nasib kawan-kawan kita yang lain? yang harus putus sekolah dari Boedoet karena harus berurusan dengan hukum akibat terlibat tawuran? atau putus sekolah karena kenakalan-kenakalan dan kebodohan lainnya?. Emang gw pikirin!!, memang sebuah jawaban yang sangat sederhana untuk kita melepaskan diri dari beban yang bukan menjadi tanggung jawab kita. Tapi kata-kata itu akan menjadi bumerang ketika kita harus berbicara tentang arti solidaritas didalam kehidupan berkomunitas seperti di 19A contohnya. Kita tidak bis...

19A Kini Dan Selanjutnya, Bagian Pertama

Tidak terasa komunitas 19A telah berusia 21 tahun, tapi keberadaanya antara ada dan tiada. Ada hanya karena keharusan dari sebuah tradisi yang telah melekat didada, walau bergerak sunyi bagaikan pergerakan dibawah tanah. 19A memang hanyalah sebuah rumah singgah yang tak pernah mempunyai pondasi apapun, hanya ada tiang-tiang peyanggah  untuk berdirinya sebuah atap. Rumah singgah untuk bersenda gurau dan bernostalgia akan masa lalu, setelah hal tersebut dirasa cukup mengobati kerinduan maka rumah ini pun akan sepi kembali. 19A memang hanyalah sebuah komunitas terbatas, tanpa ikatan dan tanpa paksaan sehingga untuk masuk didalamnya hanya cukup bermodalkan keiklasan semata. Tapi mungkin hanya segelintir kawan-kawan yang memahami filosofi dari keberadaan 19A tempo dulu, bahwa 19A ada karena saat remaja dahulu kita adalah saudara se-bis. Saudara yang telah berikrar walau tak pernah terucap bahwa kita akan saling menjaga dan saling melindungi satu...

Polemik Seputar Berdirinya IKAT 1

Tulisan ini hanyalah sedikit ulasan tentang polemik yang terjadi sebelum dan sesudah berdirinya IKAT 1, bukan maksud penulis untuk memperkeruh suasana yang memang sudah keruh, tapi sedikit banyak para pembaca dapat memahami situasi yang sedang terjadi saat ini. Harapan penulis semoga para pembaca dapat lebih bersikap dewasa dalam berpikir, bijak dalam bersikap serta cerdas dalam bertindak. Selamat membaca.... Boedoet lahir dan besar karena adanya sebuah tradisi yang berkembang didalamnya, tapi tidak banyak yang mengetahui bahwa Boedoet, Boedi Oetomo, Stovia, 1908 dan Jalan Budi Utomo sedikitpun tidak mempunyai hubungan sejarah apapun juga. Tapi karena semua itu sudah menjadi tradisi yang diteruskan secara turun menurun dari generasi ke generasi, sehingga menjadi sebuah komoditas yang laku dijual ke pasar. Tapi tahukah para pembaca bahwa Boedoet hanyalah sebuah genk pelajar?, genk yang tidak pernah diakui keberadaannya oleh pihak sekolah tapi dibiarkan tetap tumbuh subur didalamnya se...

"Disini kami lahir, disini kami besar. Disini kami merasa, bodoh"

in Memorial Boedoet 1946-20..... SMA Negeri 1, STM Negeri 1, STM Negeri 5, STM PGRI 4, STM PGRI 5, 5 Sekolah saling bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tembok pemisah sekolah, didalamnya terdapat ribuan murid yang belajar dan bersatu dalam satu ruas jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Pelajar-pelajar dari seantero Jabodetabek berkumpul untuk menuntut ilmu, dan berbagai macam karakter orang bersentuhan serta bersosialisasi hingga terbentuk sebuah kesamaan dalam sebuah solidaritas. Dari sebuah solidaritas lahirlah sebuah fanatisme akan sebuah nama besar yang selalu dikenang sepanjang hidup kami. Boedoet, telah memberikan dan mengajarkan kami arti besar sebuah kebersamaan dan persaudaraan yang hakiki hingga puluhan tahun kemudian setelah kami tak lagi memakai putih abu-abu. Boedoet memberikan kebanggaan kepada diri kami, sehingga membuat kesulitan bagi kami untuk menyandangnya. Pergi dan pulang sekolah adalah pelajaran ekstra yang harus kami tempuh hanya untuk sampai dituj...