Skip to main content

Edy Fajar Prasetyo, Sulap Sampah Plastik Jadi Barang Cantik



Banyak dampak negatif dari limbah plastik yang terbuang. Selain dapat mengakibatkan banjir, limbah plastik yang tertimbun di tanah juga mengakibatkan tanah tandus. Hal itulah yang membuat keprihatinan Edy Fajar Prasetyo (21), alumni SMA Negeri 1 Boedoet angkatan 2011, untuk memanfaatkan limbah plastik menjadi Ebi Bag, Ebi Souvenir, dan Ebi Wallet (dompet), kerajinan tangan cantik nan bernilai jual tinggi.

Sudah dua tahun Mahasiswa Jurusan Agribisnis semester 6 ini menekuni pemanfaatan limbah plastik. Semuanya  bermula dari keprihatinan Edy melihat limbah-limbah plastik yang masih kurang diperhatikan. “Secara tidak sadar, dalam sehari kita bisa menghasilkan dua puluh jenis sampah. Dari ujung rambut sampai bawah kaki,” katanya, Jumat (20/6).

Kerajinan pemanfaatan limbah plastik sebenarnya bukan barang baru. Sudah banyak yang mengenal dan memproduksi kerajinan ini. Umumnya, plastik-plastik yang akan dibuat menjadi tas, souvenir, atau dompet adalah plastik-plastik bekas bungkus kopi dan semacamnya. Plastik-plastik itu kemudian dibersihkan, dikeringkan, lalu dipilah sesuai produk kerajinan yang akan dibuat.

Begitu pun dengan kerajinan plastik milik Edy, bedanya pada motif. Pada kerajinan plastik buatan Edy, motif tas, souvenir, atau dompet dibentuk dari plastik-plastik bekas bungkus kopi tersebut. Setelah melalui beberapa fase, plastik-plastik itu kemudian dianyam sehingga menjadi motif-motif unik dan menarik.

Hasil kerajinan yang telah diproduksi, Edy jual lewat media sosial atau pada acara-acara expo. Per satu tas, bisa dihargai Rp100-200 ribu. Selain itu, Edy juga memfasilitasi pelatihan enterpreneur muda yang fokus di bidang lingkungan lewat GEO (Green Enterpreneur Organizer).

Meski begitu, sebenarnya bukan hanya harga jual yang tinggi dari usahanya itu. Namun bagi Edi, yang lebih penting adalah nilai pemberdayaan lingkungan, atau yang ia sebut SELUNDUP (Sedekah Lingkungan Hidup).

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, berwirausaha sudah sudah menjadi hal biasa bagi pria berkacamata ini.  Ketika itu, Edy berjualan stiker di sekolah. Semasa SMP, Edy juga berjualan kopi dan gorengan di sekolah. Sedangkan semasa SMA, ia pun pernah berjualan nasi uduk di kelas. Karena itu, saat lulus SMA ia didaulat sebagai siswa berprestasi bidang kewirausahaan.

Tak pernah terbayangkan dalam benak anak kelima dari enam bersaudara ini menjadi seorang wirausaha muda. Semasa SMA, dalam benak Edy hanya ingin melanjutkan kedunia kerja. Alasan utama tentu karena urusan finansial. Ditambah ia hidup bersama kelima saudaranya.

Mulanya, pasca Ujian Nasional (UN), ia hanya coba-coba ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Edy mengaku, tak ada persiapan khusus untuk kelulusannya di SNMPTN. Bahkan, ketika teman-temannya tengah sibuk mempersiapkan SNMPTN itu, ia justru disibukkan dengan pekerjaannya.

“Pernah ikut SNMPTN, cuma karena saya enggak ikut bimbel, saya belajar ke temen saya yang ikut bimbel. Dengan modal itu, bismilah, saya pilih jurusan yang jarang dilirik mahasiswa lain, tapi masih prospek,” kenangnya. Tak disangka, ternyata ia diterima masuk UIN Jakarta.

Bersama kelima temannya, Eli, Nadya, Andis, Alfi, dan Imas , sudah banyak prestasi yang Edy peroleh. Pada 2012, ia menyabet juara di Bank Indonesia Green Entrepreneur. Di tahun yang sama, Edy juga menjadi juara Wirausaha Mapan yang diadakan pemkot DKI Jakarta. Juga sempat menjadi finalis di Social Entrepreneur Academy pada 2014.

Tak hanya penghargaan, produk yang Edy dan temen-temannya buat juga telah dipasarkan di dalam maupun di luar negeri. Pada 2013, setelah bersaing ketat dengan beberapa kampus ternama seperti ITB, IPB, UNJ, dan UI, kerajinan plastik Edy dan teman-temannya di bawa ke APEC Unthinkable Expo. Kemudian pernah dibawa ke ajang International Exhibition di Pakistan.

Meski banyak prestasi yang sudah ia peroleh, namun tak mudah bagi alumnus SMAN 1 Boedi Oetomo ini menjalani wirausahanya. Tak jarang ia mengalami kendala baik dari Sumber Daya Manusia (SDM) maupun finansial.

Pernah suatu ketika, uang senilai Rp5 juta yang ia peroleh dari hasil kerja kerasnya memenangi kompetisi wirausaha raib di bawa salah satu rekan bisnisnya ketika Edy mencoba berwirausaha ke produk makanan. Selain itu, sedikitnya anggota yang tergabung dalam komunitasnya juga menjadi kendala lain. “Secara teknik, kita masih butuh tenaga ahli juga,” ujarnya.
Berani mengambil risiko telah menjadi prinsip pria yang dulu pernah bercita-cita menjadi pemain bola ini. Menurutnya, tak ada usaha yang lebih baik kecuali hanya satu, yakni menjalaninya. “Jangan pernah takut untuk memulai usaha. Selalu haus akan pengetahuan,” katanya.

Sumber: ikaboedoet.com

Comments

Popular posts from this blog

Rute Bus Kota "PPD" Reguler Jaman Dulu

PPD Reguler 10 Jurusan : Terminal Blok M - Terminal Senen. Rute: Terminal Blok M - Radio Dalam - Velbak - Sudirman - Thamrin - Monas - Harmoni - Pasar Baru - Terminal Senen - Tripoli - Pejambon - Gambir - Monas - Dukuh Atas - Thamrin - Sudirman - Pakubuwono - Taman Puring. PPD Reguler 11 Jurusan : Terminal Blok M - Pejambon Rute : Terminal Blok M - Kyai Maja - Barito - Velbak - Pakubuwono - Hang Lekir - Jenderal Sudirman - Imam Bonjol - Diponegoro - Salemba Raya - Kramat Raya - Kwini II - Pejambon PPD Reguler 12 Jurusan : Terminal Blok M - Lapangan Banteng Utara Rute : Terminal Blok M - Iskandarsyah - Senopati - Bundaran Senayan - Jenderal Sudirman - Hotel Indonesia - MH. Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - IR. H. Juanda - Jl. Pos - Gedung Kesenian - Lapangan Banteng Utara PPD Reguler 13 Jurusan : Terminal Lebak Bulus - Pejambon Rute : Terminal Lebak Bulus - RS Fatmawati - Wijaya II - Wijaya I - Senopati - Sudirman - Imam Bonjol - Diponegoro - Salemba Raya - Kramat ...

Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi IKA BTOT 19A

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA ORGANISASI IKATAN ALUMNI BOEDOET TOT 19A (IKA BTOT 19A) ANGGARAN DASAR MUKADIMAH Dengan rahmat Tuhan yang Maha pengasih dan Maha penyayang, serta diiringi kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai alumni SMA Negeri 1, STM/SMK Negeri 1, ex.STM Negeri 5 (kini SMK Negeri 4), ex.STM PGRI 4 (kini SMK PGRI 10), ex.STM PGRI 5 (kini SMK PGRI 11) dan berdomisili di jalur Bis ex.Patas Mayasari Bhakti 19A jurusan Pasar Baru - Kalimalang. Yang dahulu atau kini sekolah-sekolah tersebut berkedudukan di Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat dalam usaha pengabdian kepada almamater khususnya dan masyarakat serta bangsa pada umumnya, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945, maka dengan itikad luhur demi terwujudnya cita-cita tersebut, dibentuklah suatu organisasi dengan nama Ikatan Alumni Boedoet TOT 19A. BAB I NAMA, WAKTU dan TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Organisasi ini bernama Ikatan Alumni Boedoet TOT 19A, disingkat IKA BTOT 19A. 2. IKA BTOT 19A d...

GEDUNG KESENIAN JAKARTA (Stadschouwburg)

GEDUNG KESENIAN JAKARTA (Stadschouwburg) Jalan Gedung Kesenian 1 Jakarta 10710-Indonesia Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Belanda yang hingga sekarang masih berdiri kokoh di Jakarta Pusat. Gedung ini adalah tempat para seniman dari seluruh Nusantara mempertunjukkan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, sastra, dan lain sebagainya.Gedung ini adalah sebuah bangunan bergaya neo-renaisance yang dibangun tahun 1821 di Weltevreden adalah gedung kesenian disebut sebagai Theater Schouwburg Weltevreden dikenal juga sebagai Gedung Komedi. Gedung Kesenian Jakarta ini terletak di Jalan Gedung Kesenian No. 1 Jakarta Pusat. Ide munculnya gedung ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Gedung yang bersejarah ini dibentuk dengan gaya empire oleh arsitek Arsitek Para perwira Jeni VOC, Mayor Schultze. Sejarah gedung yang berpenampilan ...