Ketika Pak Harto masih berkuasa pernah terbetik analisa politik bahwa Mbak Tutut telah dipersiapkan Pak Harto untuk memimpin Indonesia kelak. Tutut kerapkali dilibatkan dalam rombongan kepresidenan didalam dan luar negeri. Tutut juga dicantelkan di organisasi Golkar sebagai salah seorang ketua. Golkar adalah mesin politik Order Baru.
Kalkulasi itu semakin riil takala Pak Harto memasukan nama Tutut sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Pembangunan VII periode 1998-2003. Muncul ketakutan besar bakal mandegnya rekrutmen politik secara terbuka untuk hanya beredar di lingkaran dalam Keluarga Cendana.
Sebagai Menteri Sosial di sebuah masa yang sedang susah Tutut aktif terjun kebawah menyaksikan langsung bagaimana dampak krisis moneter menimpa seluruh rakyat bawah. Dia lalu membagi-bagikan sembako, kupon makan murah di warung tegal, mempopulerkan gerakan cinta rupiah, dan berbagai kegiatan lain yang diharapkan bisa menahan kelaparan besar yang sedang menimpa.
Tujuannya agar kekuasaan ayahnya ikut tertopang sambil menunggu keberhasilan penanganan krisis. Tapi apa daya akumulasi kemarahan dan kegeraman lawan politik ayahnya sudah lebih besar. Hal itu masih diperparah oleh banyaknya pembantu dekat ayahnya mulai berpaling muka dari pemimpin "tua" itu.
Lewat PKPB rencana besar Pak Harto untuk mendudukan Tutut di kursi presiden mulai ditata ulang kembali. Tutut jika ingin menjadi presiden harus melewati proses ilmiah disertai perjuangan dan pengorbanan yang besar. Usia 55 tahun dirasakan Tutut sudah mampu berjuang sendiri tanpa katrolan klik politik ayahnya, kelahiran 23 Januari 1949 dan menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Budi Utomo - Jakarta, serta kuliah di Universitas Trisakti, Jakarta.
Tutut biasa menyebut diri sebagai pekerja sosial dan pengusaha. Pekerjaan sosial Mbak Tutut terpatri lewat berbagai kegiatan berikut organisasi sosial yang dia pimpin. Tutut adalah pendiri, pemilik serta pemimpin PT Citra Lamtorogung Persada yang membawahi berbagai anak perusahaan. Diizinkannya anak-anak Pak Harto berbisnis dinilai banyak kalangan pengamat menjadi pertanda awal mulai pudarnya semangat kejuangan Pak Harto membangun bangsa. Sekaligus pula awal malapetaka kejatuhan pamor Pak Harto.
Menjelang dekade 1990-an adalah awal Tutut mulai dipersiapkan oleh ayahnya tampil menghadapi publik. Momentum itu Tutut sendiri yang pilih menunggu anak-anaknya tumbuh dewasa. Si bungsu misalnya, sudah mulai menginjak bangku SMP. Tutut mengaku sebelum itu jarang tampil di muka umum sebab harus mengasuh secara intens ketiga anaknya. Tutut adalah murni "orang rumahan" yang terjun langsung mengawasi ketiga anaknya. Yakni Dandy Nugroho Hendro Maryanto kelahiran 10 Maret 1973, Danty 20 Juni 1975, dan Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana kelahiran tahun 1978. Tutut dan sang suami Indra Rukmana sepakat untuk urusan luar rumah dan luar sekolah akan ditangani Indra. Sementara urusan dan kegiatan
dalam rumah Tutut yang berperan.
Tutut mengajari anak-anaknya sama persis dengan bagaimana dahulu bapaknya yaitu Pak Harto dan ibunya yaitu Ibu Tien Soeharto mengajari Tutut dan adik-adiknya. Terutama jika menyangkut pola hubungan dalam keluarga menuju suasana rukun dan harmonis berikut nuansa dan romansanya. Demikian pula ajaran ayahnya tentang kepemimpinan. Tutut merasa beruntung berkesempatan belajar langsung dari yang terbaik yakni bapaknya sendiri.
"Menurut saya, Bapak adalah pemimpin yang baik. Secara terprogram sekalipun semula hal itu tidak saya sadari, Bapak memimpin saya menjadi seorang pemimpin. Dimulai dengan tugas memimpin adik-adik saya ketika kami masih serumah. Dari hal-hal yang tampaknya sepele, Bapak menanamkan sifat, sikap dan kultur memimpin kedalam kehidupan sehari-hari saya", kata Tutut.
Tutut juga masih ingat betul sebuah pesan kepemimpinan dari ayahnya yang besar kemungkinan akan menjiwai langkah Tutut merebut kursi kepresidenan 2004. "Seorang pemimpin yang sukses tidak harus cemerlang kecerdasannya. Yang penting, sebagai pemimpin ia harus punya kehausan akan keberhasilan, harus punya keyakinan mutlak akan tugas yang diembannya dan ia harus punya keberanian untuk meniadakan hal-hal yang bisa menggagalkan tugasnya untuk mencapai sasaran". Itulah Tutut, yang sangat yakin betul masih banyak rakyat yang mengagumi ayahnya, berikut kagum pada kerudung dan senyum manis khas dia, tentunya.
Bagi Siti Hardiyanti Rukmana nama mantan Presiden Soeharto ayahnya masih sangat laik jual dibidang politik. Untuk menjadi pemimpin tertinggi di republik ini, dia yang dipanggil Mbak Tutut, menyebut kendaraan politik pengusungnya yakni Parta Karya Peduli Bangsa (PKPB) adalah satu-satunya partai yang pendiriannya direstui oleh Pak Harto.
Pak Harto adalah pemegang Kartu Tanda Anggota (KTA) PKPB nomor 1. Sama seperti sebelum menjadi politisi PKPB, setiap tampil dimuka umum Tutut selalu menggunakan kerudung indah yang dibalut senyum manis khasnya.
Menjelang pemilu 2004 Tutut hadir menjadi politisi baru mewakili trah Pak Harto. Isu yang digongkan oleh Tutut dan segenap jajaran teras PKPB adalah besarnya kerinduan masyarakat untuk kembali mengalami kehedipan yang tenang, damai, sejahtera, berkecukupan, dan berketuhan. Kehidupan seperti ini pernah disajikan oleh Rezim Order Baru yang dipimpin Pak Harto selama 32 tahun. Tutut tidak membawa sedikitpun paham ideologi Soehartoisme.
Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2345-dipersiapkan-jadi-pemimpin

Comments
Post a Comment